Berita

Kementerian Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi dan Pemasyarakatan Republik Indonesia

DWP Kemenko Kumham Imipas Perkuat Peran Keluarga Cegah KDRT

IMG-20260715-WA0030

Jakarta, 15 Juli 2026 – Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Pusat Kementerian Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Kemenko Kumham Imipas), Ny. Nova R. Andhika Dwi Prasetya, menegaskan bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam membentuk generasi yang sehat, berkualitas, dan berkarakter. Oleh karena itu, upaya menciptakan keluarga yang harmonis, aman, dan bebas dari kekerasan menjadi tanggung jawab bersama sebagai bagian dari mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.

Hal tersebut disampaikan Ny. Nova usai menghadiri Gelar Wicara Peringatan Hari Keluarga Nasional yang diselenggarakan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian PPN/Bappenas, Rabu (15/7). Dalam kegiatan tersebut, Ny. Nova didampingi Pengurus DWP Kemenko Kumham Imipas, Ny. Titik Mamur Saputra dan Ny. Shintawati Achmad Fahrurazi.

"Keluarga merupakan tempat pertama setiap individu belajar tentang kasih sayang, saling menghormati, dan menyelesaikan persoalan dengan bijaksana. Melalui kegiatan ini, saya berharap seluruh anggota Dharma Wanita semakin memahami pentingnya membangun keluarga yang aman, setara, dan saling mendukung, sehingga dapat melahirkan generasi yang berkualitas untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045," ujarnya.

Kegiatan diawali dengan laporan Ketua Pelaksana, Ny. Dewi Chandra, yang menyampaikan bahwa penyelenggaraan gelar wicara ini menjadi wadah berbagi pengetahuan sekaligus memperkuat kesadaran akan pentingnya membangun keluarga yang sehat, harmonis, dan bebas dari kekerasan sebagai fondasi pembangunan nasional.

Selanjutnya, Ketua DWP Kementerian PPN/Bappenas, Ny. Yogi Retna Pungkas, dalam sambutannya menyampaikan bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk karakter seseorang. Menurutnya, perempuan memiliki peran strategis dalam membangun keluarga yang tangguh sekaligus mendukung terciptanya sumber daya manusia yang unggul.

Sementara itu, Penasehat DWP Kementerian PPN/Bappenas, Ny. Ninuk Pambudi, menegaskan bahwa pembangunan bangsa tidak dapat dilepaskan dari kualitas keluarga Indonesia. Ia mengajak seluruh anggota Dharma Wanita Persatuan untuk terus memperkuat peran keluarga sebagai ruang yang aman, sehat, dan setara bagi setiap anggotanya.

Rangkaian gelar wicara menghadirkan sejumlah narasumber yang membahas keterkaitan keluarga, pembangunan berkelanjutan, hingga upaya pencegahan kekerasan dalam rumah tangga.

Sekretariat Nasional SDGs Kementerian PPN/Bappenas, Adenira Hargianintya, menjelaskan bahwa persoalan yang terjadi di dalam keluarga memiliki dampak yang luas terhadap pembangunan nasional. Kekerasan dalam keluarga tidak hanya menimbulkan trauma fisik dan mental bagi korban, tetapi juga berdampak pada pengasuhan anak, menurunkan produktivitas, meningkatkan risiko kemiskinan, hingga menghambat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

IMG-20260715-WA0029

"Indonesia Emas dimulai dari rumah. Karena itu, pembangunan berkelanjutan harus dimulai dengan menciptakan keluarga yang aman, sehat, dan bebas dari kekerasan," ujar Adenira.

Ia menambahkan bahwa kesetaraan gender dan perlindungan terhadap perempuan telah menjadi bagian dari prioritas pembangunan nasional melalui berbagai kebijakan yang mendorong pencegahan kekerasan, peningkatan pemberdayaan perempuan, dan pengarusutamaan gender dalam pembangunan.

Narasumber berikutnya, Dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Ida Ruwaida, memaparkan bahwa kekerasan dalam rumah tangga merupakan persoalan sosial yang dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari individu, relasi dalam keluarga, lingkungan, hingga struktur sosial dan budaya.

Berdasarkan Catatan Tahunan Komnas Perempuan Tahun 2025 dan Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional Tahun 2024, sebagian besar kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan masih terjadi di ranah personal, dengan kekerasan dalam rumah tangga menjadi bentuk kekerasan yang paling dominan.

"KDRT bukan takdir, melainkan pola yang bisa diputus. Pencegahannya membutuhkan kolaborasi mulai dari keluarga, komunitas, hingga negara," tegas Ida.IMG-20260715-WA0031

Sementara itu, Psikolog Klinis UPT PPPA Provinsi DKI Jakarta, Nurfitriyanti Permata Putri, menjelaskan bahwa kekerasan dalam rumah tangga tidak hanya berdampak pada korban secara langsung, tetapi juga memengaruhi tumbuh kembang anak, kesehatan mental, relasi sosial, serta kualitas kehidupan keluarga secara keseluruhan. Ia juga memaparkan berbagai layanan yang dapat diakses korban, mulai dari layanan pengaduan, pendampingan psikologis, bantuan hukum, hingga penyediaan rumah aman.

"Penanganan korban tidak hanya berfokus pada pemulihan setelah kekerasan terjadi, tetapi juga memastikan korban memperoleh perlindungan, pendampingan, serta akses terhadap layanan yang dibutuhkan untuk kembali menjalani kehidupan secara aman," ujar Nurfitriyanti.

Sebagai narasumber penutup, Praktisi Parenting sekaligus Founder Fatherman, Bendri Jaisyurrahman, mengajak seluruh peserta untuk kembali memperkuat peran ayah dalam membangun keluarga yang harmonis dan bebas dari kekerasan.

Menurut Bendri, kehadiran ayah tidak hanya diukur dari kemampuannya memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, tetapi juga dari keterlibatan emosional dalam mendampingi pasangan dan anak-anak.

"Kehadiran ayah menjadi salah satu kunci terciptanya keluarga yang aman. Ketika ayah hadir, terlibat, dan mampu membangun komunikasi yang sehat dengan pasangan maupun anak, potensi terjadinya kekerasan dalam rumah tangga dapat diminimalkan," ujar Bendri.

Ia menambahkan bahwa pengasuhan merupakan tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu. Oleh karena itu, keluarga perlu membangun budaya saling menghargai, saling mendukung, dan menyelesaikan persoalan melalui komunikasi yang sehat agar rumah benar-benar menjadi ruang yang aman bagi seluruh anggota keluarga.

"Anak belajar tentang kasih sayang, cara menyelesaikan konflik, hingga menghormati orang lain pertama kali dari rumah. Karena itu, peran ayah dan ibu harus berjalan beriringan dalam memberikan teladan yang baik," tambahnya.

Menutup kegiatan, Ny. Nova menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya gelar wicara yang memberikan pemahaman menyeluruh mengenai pentingnya keluarga sebagai fondasi pembangunan bangsa.

"Materi yang disampaikan hari ini memberikan perspektif yang sangat lengkap, mulai dari hubungan keluarga dengan pembangunan berkelanjutan, faktor-faktor penyebab kekerasan dalam rumah tangga, penanganan bagi korban, hingga pentingnya peran ayah dan ibu dalam membangun keluarga yang harmonis. Saya berharap seluruh anggota Dharma Wanita dapat mengambil nilai-nilai baik dari kegiatan ini dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, karena keluarga yang kuat akan melahirkan generasi yang kuat pula," pungkasnya.

logo besar kuning
 
KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG HUKUM
HAK ASASI MANUSIA, IMIGRASI, DAN PEMASYARAKATAN
REPUBLIK INDONESIA
PikPng.com school icon png 2780725   Jalan H.R. Rasuna Said Kav. X6 No.8 Kuningan, Jakarta Selatan 12940
PikPng.com phone icon png 604605   08-xxxx-xxxx
PikPng.com email png 581646   Email Kehumasan
    humas.kumhamimipas@gmail.com
     
     

 

facebook kemenkumham   twitter kemenkumham   instagram kemenkumham   linked in kemenkumham   Youtube kemenkumham   rss kemenkumham

facebook kemenkumham   twitter kemenkumham   instagram kemenkumham   linked in kemenkumham   Youtube kemenkumham   rss kemenkumham

PikPng.com school icon png 2780725   Jalan H.R. Rasuna Said Kav. X6 No.8 Kuningan, Jakarta Selatan 12940
PikPng.com phone icon png 604605   +6812-345678
PikPng.com email png 581646   rohumasti@kumham-imipas.go.id
PikPng.com email png 581646   rohumasti@kumham-imipas.go.id

Copyright © Pusat Data dan Teknologi Informasi
Kemenkumham RI