
Jakarta, 15 Juli 2025 — Kementerian Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenko Kumham Imipas) berkomitmen memperkuat sinergi lintas sektor dalam upaya pemenuhan dan perlindungan hak anak melalui partisipasi aktif dalam Forum Tematik Bakohumas Hari Anak Nasional (HAN) 2025. Forum yang digelar di Aula R.A. Kartini Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) ini mengusung tema “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045.”
Forum ini dihadiri oleh perwakilan dari 74 kementerian dan lembaga, termasuk unsur kehumasan Kemenko Kumham Imipas, serta pimpinan tinggi madya dan pratama dari Kemen PPPA, para staf ahli, dan mitra strategis lainnya. Kegiatan dimulai dengan laporan Kepala Biro Humas dan Umum Kemen PPPA, Nurul Khakhimah, yang menekankan bahwa tema HAN tahun ini merefleksikan pentingnya menempatkan anak sebagai subjek pembangunan nasional.
“Forum ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat sinergi dan menyatukan narasi positif tentang perlindungan anak. Pendekatan desentralisasi yang diterapkan tahun ini bertujuan agar peringatan HAN lebih inklusif, menyentuh komunitas hingga ke desa-desa dan sekolah,” jelas Nurul.
Sebagai bagian dari Bakohumas, Kemenko Kumham Imipas turut mendukung penguatan narasi kolektif tentang pentingnya perlindungan anak, terutama dalam konteks hukum dan hak asasi manusia. Hal ini ditegaskan dalam sambutan Staf Ahli Kemkominfo Bidang Komunikasi dan Media Massa, Molly Prabawaty, yang mewakili Ketua Bakohumas.
Ia menyampaikan bahwa HAN merupakan momentum untuk membangun Indonesia yang lebih ramah anak, terlebih di era digital saat ini. “Pemerintah telah menetapkan PP Nomor 17 Tahun 2025 sebagai langkah konkret dalam memastikan sistem elektronik yang ramah dan aman bagi anak-anak. Kita harus bergotong-royong menggaungkan pesan ini melalui seluruh saluran komunikasi publik,” ujarnya.

Acara dilanjutkan dengan sambutan dan pembukaan resmi oleh Sekretaris Kementerian PPPA, Titi Eko Rahayu. Ia menyoroti pentingnya melihat kesejahteraan anak sebagai indikator keberhasilan pembangunan nasional. “Anak-anak adalah investasi bangsa. Mereka harus dijaga, diberdayakan, dan dilibatkan secara aktif dalam proses pembangunan,” tegasnya.
Titi juga menekankan bahwa penyelenggaraan HAN secara desentralisasi memungkinkan setiap wilayah berinovasi dalam perayaan puncak HAN pada 23 Juli 2025, dengan semangat kebersamaan dan pelestarian budaya lokal, melalui permainan tradisional dan lagu daerah.
Sebagai inti acara, Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak, Dr. Ir. Pribudiarta Nur Sitepu, memaparkan karakter ideal anak Indonesia menuju 2045: memiliki akhlak mulia, rasa bahagia, empati sosial, kecerdasan menyeluruh, keberanian, serta semangat solidaritas dan gotong royong. Ia menekankan bahwa tema dan subtema HAN tahun ini dirancang secara holistik mencakup aspek fisik, mental, sosial, dan digital anak.
Prinsip penyelenggaraan HAN 2025 pun dirancang agar berdampak nyata dan memberi ruang partisipatif seluas-luasnya. “Kami mendorong setiap daerah, mitra, dan komunitas untuk kreatif dan kolaboratif dalam menyusun kegiatan HAN, agar pesan perlindungan dan pemberdayaan anak dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat,” ungkapnya.
Forum ini menjadi langkah penting untuk memperkuat koordinasi dalam membangun ekosistem hukum dan kebijakan yang berpihak pada anak. Dengan kolaborasi lintas sektor dan kampanye informasi yang masif, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap hak anak akan semakin meningkat, sekaligus memperkuat ketahanan sosial sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
